Get the Flash Player to see this player.
 

Getting to know Dayak Kids in Kalimantan

Written by: Louisa Kusnandar

Inilah awalnya, secarik surat dari Robi, “anak” saya di Singkawang.

"Kepada penyantun yang terkasih, perkenalkan nama saya Robiyanto, biasanya dipanggil Robi. Hobi saya bermain Bola. Cita-cita saya ingin menjadi polisi. Saya senang bisa berkenalan dengan penyantun. Terima Kasih."

 

Meski sering mendengar soal World Vision atau Wahana Visi, saya belum mengerti sepenuhnya apa yang spesial dari lembaga ini. Sampai suatu ketika, saya diajak untuk menjadi “sponsor”. Memang kedengarannya tidak enteng. Mensponsori anak dari kecil sampai ia berumur 17 tahun. Tapi, saat saya melihat banyaknya foto anak-anak Indonesia yang perlu 'penyantun', khususnya untuk membantu pendidikan mereka...hm, gak perlu pikir panjang lah, why not?

 

Awal tahun ini, saya menerima surel dari Wahana Visi berisi undangan kunjungan ke Singkawang, kota seribu kuil. Mendengar pernah, tapi kesana, wah... belum pernah terlintas di benak saya. Di jadwal tertulis:

 

Pontianak- Singkawang: 13:00-14:00

 

Ternyata, ada sedikit kesalahan pengetikan. bukan 1 jam, tapi sedikit lebih jauh dari Jakarta-Bandung plus macet! Tiga jam lama perjalannya, melewati sungai kapuas dan tugu garis khatulistiwa. Konon setiap tanggal 21- 23 Maret,tugu ini berdiri tanpa bayangan karena letaknya berada di lintang nol derajat. Sayang, kami “kepagian” datang di awal Maret.

 

Kenapa saya ikut trip ini? ya, sebenarnya saya hanya ingin bertemu dengan Robi. Aneh rasanya, sudah dua tahun surat-menyurat, tapi tidak pernah bertemu muka. Siapa sangka, perjalanan singkat ini lebih dari sekedar perkenalan.

 

Kunjungan pertama kami ke SMPN Samalantan 3 di Singkawangi. Hebat rasanya, Wahana Visi membantu pembangunan gedung SMP di pelosok Singkawang ini, bahkan ada lima komputer yang tersedia. Padahal siswanya berjumlah 155 orang, jadi menggunakannya bergantian. Tapi setidaknya teknologi komputer sudah ada, meskii belum bisa internetan, apalagi main game warcraft atau dota seperti anak kota :P

 

Kami juga mengunjungi Posyandu di Pacong. Cara bercerita para kader ini lucu sekaligus mengharukan. Mereka “curhat” bagaimana mereka telah meminta pemerintah setempat memberikan dana untuk membangun posyandu. Maklum, selama bertahun-tahun, kalau rapat katanya di warung, jalanan, atau di rumah Bu RT. Secara lirih, mereka mengaku, “Cuma pengen nimbang anak di bawah atap, bukan di pohon rambutan”.

 

Matahari di Singkawang terik sekali, tapi kami melanjutkan perjalanan ke Bengkayang, ke atas bukit menggunakan mobil pick-up strada – the best vehicle for this trip! Perjalanan ke Bumuran cukup menantang. Tanjakan, batuan, melewati sungai, jembatan gantung...  sambil menikmati suasana perkampungan dayak, dan mempelajari pohon-pohonan, ada buah cocoa, nangka, pepaya, pete hmm... lengkap! lapar tinggal petik! :)

 

30 menit kemudian, sampailah kami di sebuah kampung suku Dayak. Kampung ini penuh dengan anak-anak suku Dayak. Banyak sekali... delapan, sembilan, sepuluh, belasan anak.

 

Mereka semangat menyambut kedatangan kami. Jarang-jarang ada pengunjung.

Saya pribadi sudah lama tidak bermain dengan anak-anak sebanyak itu. Senang, lega, ribut, tapi asyik! 

 

Kondisi di Bumuran memang tergolong tradisional. Rumah-rumah panggung terbuat dari kayu, warga kebanyakan menoreh karet sebagai mata pencaharian.Listrik belum sampai di daerah ini, jadi lampu minyak tanah jadi andalan.

Kami mengunjungi rumah kecil yang dibangun secara swadaya.

Rumah dari kayu yang kini dipergunakan anak-anak kecil untuk  belajar.

Guru mereka pun hanya ada dua, itupun sukarela.

 

Tapi yaa... inilah realita kehidupan di Singkawang dan Bengkayang, Kalimantan. Jumlah anak-anak yang membutuhkan edukasi mencapai ratusan. Tapi sarana pendidikan baik pengajar maupun gedung sekolah sangat terbatas. Ironis.

Padahal anak-anak adalah generasi  masa depan. Sounds a bit too much, but that's the truth.Masa hanya anak kota saja yang pintar? hmm...

 

Saya, sepenuh hati, sangat salut pada para pengajar yang bekerja secara sukarela. Tanpa honor sedikit pun. Andai masih ada yang menerima pun, jumlahnya minim. Memang inilah sistem yang diterapkan Wahana visi, tidak sekedar memberi ikan, tapi memberi kail agar warga daerah mandiri.

 

Ada sebuah kutipan berkata:

“The poor do not need charity; they need inspiration. Charity only sends them a loaf of bread to keep them alive in their wretchedness, or gives them an entertainment to make them forget for an hour or two; but inspiration will cause them to rise out of their misery” (Wallace Wattles)

 

Tim wahana visi dan para pengajar bekerja keras membangun daerah Singkawang dan Bengkayang, nun jauh disana, dengan kondisi serba seadanya. Sedangkan kita yang tinggal di kota? Macet dan banjir memang mengesalkan, tapi setidaknya listrik dan air bersih siap sedia dimana saja.

 

Kawan, hanya dengan menyumbang 150.000 per bulan, kita bisa bergabung dengan sponsor-sponsor lain dari seluruh dunia untuk membantu adik-adik kita untuk mendapatkan pendidikan.

 

Hitung-hitung anggaplah uang belanja baju atau makan enak. Bagi kita mungkin tidak terlalu terasa, tapi bagi mereka, sedikit demi sedikit, dana itu terkumpul untuk modal masa depan, setidaknya untuk belajar menulis dan membaca.

Hebat ya?

 

Senang rasanya, akhirnya saya bisa bertemu anak yang saya sponsori, Robi. Meski perbincangan kami masih canggung, dan Robi ternyata pemalu saat berbicara langsung...

 

Saya bersyukur bisa kenal teman-teman dari berbagai daerah yang ikut bergabung dalam Wahana Visi. Dari menado, surabaya, halmahera, terlebih lagi, tim wahana visi yang bekerja di Singkawang. 

 

Salah satu kutipan favorit saya adalah kutipan Mother Theresa. Ia berkata,

 

”True holliness consist in doing God’s will with a smile.”

 

You may be giving, but are you smiling?

 

I saw and witness how all these volunteers worked hand in hand, with their whole heart, helping this kids, making them happy, making them sing and laugh. These people have a big heart, a good heart... God Bless you all.

 

Well, that’s a bit of a story of my short trip to Kalimantan. Tentu ada berbagai cara untuk membantu adik-adik kita di daerah, tapi jika anda tertarik, inilah situs yang bisa anda kunjungi www.worldvision.or.id

 

Thanks for reading!

 

Surat pertama dari Robi tahun 2009 lalu.

 

Lima Komputer di SMPN 3 Samalantan
Offroad ke Bumuran
Anak-anak suku Dayak
Jemuran tradisional!
"Sekolah" anak-anak Bumuran. Luas sebenarnya hanya sebatas yang terlihat di foto :(
Akhirnya bertemu Robi! Suka main bola, hadiahnya bola sepak :)
Bapak yang penasaran dengan kunjungan anak kota!

 

 

Gedung SD
Wahana "Pisi" juga membantu penyediaan air bersih di Sijangkung
Mau Tengkuyung?
That's the journey...
Singkawang, Kalimantan 2011.

 

 

All smiles!

 

Condition of Use | Disclaimer
Wahana Visi Indonesia is a Christian humanitarian organization working to create lasting change in the lives of children, families and communities living in poverty. Wahana Visi is a partner of humanitarian organization World Vision Indonesia and implements most of World Vision's programs. Inspired by our Christian values, Wahana Visi is dedicated to working with the most vulnerable people. Wahana Visi serves all people regardless of religion, race, ethnicity or gender.
Registered in the Ministry of Justice and Human Rights No. AHU-AH.01.08-542
Act No. 27 Dated March 31, 2008
© Wahana Visi Indonesia. All rights reserved.
Best viewed with Mozilla Firefox 3.5
Facebook Fan PageFollow UsRSS