Get the Flash Player to see this player.
 

Belajar dengan Barang Bekas


Kompas    |   Rabu, 17 September 2014

Proses belajar di sekolah yang monoton membuat Jailani (46) berpikir untuk membuat media belajar yang menyenangkan bagi siswa. Guru yang sarat dengan kreativitas itu akhirnya memanfaatkan barang bekas untuk membuat berbagai alat peraga dan pernak-pernik untuk menghias kelas. Suasana belajar pun menjadi lebih menyenangkan bagi siswa dan guru.

Berkreasi dengan Alat Peraga


Media Indonesia    |   Jumat, 12 September 2014

Siapa bilang keterbatasan fasilitas di perbatasan Indonesia-Malaysia menjadi penghambat kreasi seseorang. Sebaliknya, itu justru menjadi pemacu semangat seorang guru di Sekolah Hijau Sambas, Sekolah Dasar Negeri (SDN) 07 Sasak, Desa Santaban, Kecamatan Sanjingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan.
Beragam barang yang tidak terpakai disulap Jailani, guru Sekolah Hijau Sambas, menjadi hiasan dan alat peraga yang efektif bagi proses belajar mengajar.

Pendidikan Kontekstual Dikembangkan


Kompas    |   Kamis, 11 September 2014

JAKARTA, KOMPAS - Pendidikan kontekstual mampu meningkatkan layanan pendidikan yang menyenangkan bagi siswa. Hal itu karena pendidikan kontekstual menjadikan pendidikan bermakna yang bisa menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
 
"Pendidikan kontekstual berupaya menciptakan ruang pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Anak-anak tidak tercerabut dari realitas yang ada dalam kehidupannya," papar David Ola Kia, Pemimpin Tim Pendidikan Wahana Visi Indonesia (WVI), di Jakarta, Rabu (10/9).

Cerita Anak Sambas


Femina    |   12-19 September 2014

Awan mendung menggelayut di langit Sambas pagi itu. Hari itu, saya bersama teman-teman WVI akan mengunjungi anak-anak sekolah dasar Sasak, di kecamatan Sajingan Besar, Sambas, Kalimantan Barat. Sajingan Besar merupakan kecamatan terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Dari Pontianak memakan waktu tempuh 8 jam melalui darat. Daerahnya terpencil, dengan minimnya transportasi, jalanan penuh lubang, dan krisis air bersih. Namun, di tengah keterbatasan, ada hal lain yang membanggakan, salah satu SD binaan WVI berhasil menjadi pemenang MDG's Award bidang pendidikan kategori Organisasi Masyarakat. Apa kehebatannya?

Bangun Sikap Preventif dari Rumah


Jawa Pos    |   Senin, 08 September 2014

Kasus kekerasan pada anak sebenarnya dapat ditekan dengan upaya preventif yang diawali dari rumah. Hal itu dikatakan Direktur Advokasi World Vision Indonesia Laura Hukom dalam menyikapi maraknya tindak penganiayaan anak belakangan ini.
 
Menurut dia, tindak kekerasan terhadap anak lebih berpotensi dilakukan orang-orang dekat. Saat kecil, anak mungkin belum mengetahui bagaimana cara melindungi dirinya sendiri. Saat itulah orang tua yang harus membuat lingkungan si anak menjadi aman.

Displaying 6 to 10 (of 208 records)Page: <<First  [<<]   1  2  3  4  5  6  7  8  9  10 ...   [>>]  Last>> 

Condition of Use | Disclaimer
Wahana Visi Indonesia is a Christian humanitarian organization working to create lasting change in the lives of children, families and communities living in poverty. Wahana Visi is a partner of humanitarian organization World Vision Indonesia and implements most of World Vision's programs. Inspired by our Christian values, Wahana Visi is dedicated to working with the most vulnerable people. Wahana Visi serves all people regardless of religion, race, ethnicity or gender.
Registered in the Ministry of Justice and Human Rights No. AHU-AH.01.08-542
Act No. 27 Dated March 31, 2008
© Wahana Visi Indonesia. All rights reserved.
Best viewed with Mozilla Firefox 3.5
Facebook Fan PageFollow UsRSS